Nilai komoditas kopi yang menjadi bidang unggulan di wilayah Perhutani KPH Bandung Selatan mengalami penurunan.

Indikatornya dikatakan Wakil Administratur Perhutani KPH Bandung Selatan Dede Nugraha dilihat dari penurunan hasil sharing dari petani kopi.

” Dari sharing kopi nilainya turun. Dikami ada sharing pendapatan hasil panen 20 persen untuk Perhutani, 80 persen untuk petani,” ujarnya, di cafe Dejima Kohii yang berada di areal kantor KPH Bandung Selatan, Jalan Cirebon, Kota Bandung, Rabu (1/10/2020).

Budi daya kopi di wilayah Perhutani Bandung Selatan, dilakukan oleh petani kopi yang tergabung dalam Lembaga Masyatakat Desa Hutan (LMDH).

Di wilayah Perhutani Bandung Selatan terdapat 112 LMDH, dimana setiap LMDH rata-rata terdiri dari 20 sampai 40 orang anggota.

Disebutkan Dede sebagian besar LMDH melakukan budi daya kopi, sisanya terlibat dalam pengelolaan hutan lainnya.

” LMDH mengembangkan produk, sendiri kebanyakan kopi hampir 95 persen,” jelasnya.

Perhutani KPH Bandung Selatan mengelola lahan seluas 55 ribu hektar. Terdiri dari kawasan hutan lindung, hutan produksi dan produksi terbatas.

Sedangkan budidaya kopi yang ditanam disela-sela tegakan sudah mencapai luas 3.193 hektar.

Sementara itu dijelaskan KTU Perhutani KPH Bandung Selatan Teny Ropi’i penurunan nilai sharing komoditas kopi akibat melemahnya trading kopi dimasa pandemi covid 19.

” Masa pendemi ini harga kopi turun, ekspor juga. Perusahaan yang pendapatannya dari kopi kena imbasnya,” tuturnya.

Tahun 2019, lanjut Teny pendapatan Perhutani KPH Bandung Selatan mencapai 600 juta rupiah. Memasuki masa pandemi sampai akhir September 2020 mengalami penurunan

Pendapatan dari sharing kopi turun sampai 30 persen, Sampai saat ini 400 juta juga belum tercapai,” pungkasnya.(sas)

 

 

 

 

 

Read More